Blog Archives

[PICT] Kai EXO-K for Calvin Klein Jeans

[PICT] Kai EXO-K for Calvin Klein Jeans

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

credit: as tagged | JellyFish from https://kpopforus.wordpress.com

TAKE OUT WITH FULL CREADIT!!!

Snow Love~EXO Fanfiction-Oneshot

Title : Snow Love
Author : Aurelia Aurita [Jelly Fish]
Twitter : @Rithata15

Cast : ^Han Yoo Ri
^Kim Jong In [Kai EXO]
^Oh Sehoon [Sehun EXO]
^Han Hye Ra
Lenght : oneshot [4102 word]
Genre : Romance, gaje, ect.
Rating : PG-15 [Teen]

Disclaimer : All of casts are belong to them self. The fanfict is original from my mind. Don’t judge or bash anything. Just read, like, and comment. Be a good reader!!
Gamsahamnida^^~~

Free Talk : Annyeong^^ perkenalkan saya ubur-ubur menawan dari sungai Han~~ membawa fanfict gaje yang entah layak untuk di baca atau tidak :p
Sebenarnya saya sedikit bingung dengan karakter Kai disini, tapi intinya sih dia itu cuek, dingin, dan penuh rahasia. Semoga aja kalian yang baca pada ikut penasaran kaya sayanya yang juga penasaran bakal dapet respon kaya apa wkwkwk~~
Oke deh, para pecinta EXO khususnya yang biasnya Kai, saya ingatkan, Kim Jong In is MINE!! Hahaha~~

***Snow Love*****Snow Love*****Snow Love*****Snow Love*****Snow Love***

Musim dingin membawa desiran angin bercampur salju. Membuat tubuhku sedikit menggigil merasakan hembusannya. Aku kembali merapatkan mantel cokelat yang ku kenakan. Menatap kosong hamparan salju di hadapanku. Putih. Bersih. Mataku menerawang jauh menembus kehidupanku dimasa lalu. Saat-saat aku begitu menyukai dinginnya salju. Saat-saat aku menyukai sentuhan butiran-butiran kristalnya yang menghujaniku. Menyukai aromanya dan menyukai kenangan di dalamnya..

***Snow Love*****Snow Love*****Snow Love*****Snow Love*****Snow Love***

School of Performing Arts
3 years ago

“Kai! Sehun!”

“Kalian sudah mengerjakan tugas matematika?” Aku menyerobot ganas tempat Sehun duduk dan menyelipkan diri di antara kedua teman sekelasku ini.

“Kau itu.. bisa santai sedikit tidak, eoh?” tungkas Sehun sedikit kesal dengan kemunculanku yang terkesan rusuh. Aku hanya dapat nyengir dan mengalihkan pandanganku pada sosok Kai yang terlihat datar dan dingin seperti biasanya.

“Ini, kau dapat menyalin punyaku!” Sehun memberikan buku tugas matematikanya padaku.

“Woah.. hebat sekali kau sudah menyelesaikannya!” dengan cepat tanganku menyambar buku tugas matematikanya.

Sehun tersenyum penuh bangga. “Tentu saja, aku memang selalu dapat diandalkan..”

Kai menghela nafas dan menggeser sedikit posisi duduknya. “Tentu dengan bantuan fans-fansnya,” ujar Kai datar.

“Eh?” aku menatap curiga ke arah Sehun yang hanya dapat nyengir sembari menggaruk kepala belakangnya.

“Mereka yang memberikannya padaku, tanpa ku minta.”

“Aku bodoh telah memujimu!” Aku mendengus kesal dan bangkit meninggalkan kedua namja aneh itu dengan tak lupa membawa buku tugas milik Sehun.

Sebenarnya bukan karena aku kesal telah ditipu oleh Sehun dan tidak ingin berada di dekatnya. Toh, aku tetap membawa hasil contekannya dan menyalinnya. Tapi melainkan karena aku tidak sanggup berlama-lama berada di jarak yang begitu dekat dengan Kai. Jantungku pasti bergemuruh ingin melompat keluar saat bersamanya dan pipi tembamku yang selalu disebut ‘Bakpao’ olehnya ini menjadi merah dan memanas. Aku sungguh tidak sanggup menghadapi diriku sendiri.

Aku mengenal Kai sejak kami berada di sekolah dasar dan selalu bersama hingga sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Entah mengapa kami selalu mendapat sekolah dan kelas yang sama. Tapi aku mensyukurinya.

Dulu dia adalah bocah tengil yang suka tertawa dan menjahiliku. Tapi semenjak kami berada di sekolah menengah atas sikapnya berubah. Kai yang aku kenal perlahan menghilang. Sekarang dia menjadi lebih cuek dan dingin. Sikap dan sifat tengilnya masih ada, tapi hanya ia tunjukkan pada teman laki-lakinya saja. Yang dapat ku lihat darinya hanya wajah tengilnya yang selalu mengajak berkelahi dan tak pernah berubah. Ku fikir memang wajahnya seperti itu. Terlihat songong dan menyebalkan. Aku jadi merindukannya.. merindukan sifat jahilnya terhadapku..

“Melamun lagi?”

“Ye?” mataku mengerjap bingung saat tangan Hye Ra, salah satu sahabat terbaikku dalam kawanan kami―yang terdiri dari; Kai, Sehun, aku, dan Hye Ra-, mengibas-ngibas tepat di depan wajahku.

“Oh come’on Han Yoo Ri.. berhenti berkhayal dan memikirkan pangeran misteriusmu itu..” Hye Ra mendengus sebal dan duduk di kursinya yang terletak persis di belakangku.

Aku tertawa kikuk dan berusaha mengelak tuduhannya. “Aku tidak sedang memikirkan siapapun, kok!”

Hye Ra terkekeh dan menatapku lamat. “Memangnya siapa sih pangeran misterius yang kau sukai sejak dulu itu?” tanya Hye Ra diselingi senyum penasaran.

“Ye? Hal itu..” aku memandang ke luar jendela kelas seakan menerawang sosok pangeranku itu. “rahasia! Hehehe..”

“Ah dasar pelit! Menyembunyikan rahasia seperti itu sekian lama..”

Aku hanya dapat terkekeh dan suasana menjadi hening diantara kami. Ya, ternyata perasaan ini sudah tersembunyi begitu lama. Aku bahkan tidak menyadarinya. Kai telah mengisi hatiku sejak hari pertamaku di sekolah dasar. Saat itu dia begitu manis dan lugu. Berlari bersamaku menghindari salju yang turun menghujami tubuh mungil kami. Aku mengenang hal itu hingga saat ini. Menjadikannya sebagai kenangan terindahku bersamanya. Aku benar-benar merindukan saat-saat itu.

“Sebentar lagi kelulusan.. apa kau tidak ingin menyatakan perasaanmu padanya?”

“Ye?” benar juga.. sebentar lagi kelulusan. Apa mungkin aku dapat satu universitas dengan Kai lagi?

“Cobalah untuk menyatakan perasaanmu padanya.. sebelum kau menyesal nantinya.” Apa aku harus mengatakannya? Mengatakan seluruh perasaan yang ku pendam bertahun-tahun pada Kai?

“Yak! Tidak semudah itu tahu!”

“Wae? Kau kan dapat mengiriminya surat pernyataan cintamu..” ujar Hye Ra makin terlihat enteng.

“Yak! Sudah ku bilang tidak semudah itu!!” pekikku setengah malu. Aku tidak suka menunjukkan perasaan seperti ini pada orang lain walau aku selalu terbuka pada semua orang.

*****

“Yak! Kim Jong In!” teriak Sehun untuk menghentikan langkah Kai yang berada terlampau jauh di depannya. Kai berbalik dan tersenyum kecil, tetap dengan matanya yang terlihat dingin. Sehun berlari menghampiri Kai setelah menyuruhku dan Hye Ra yang memang berjalan bersamanya untuk menunggunya dan Kai.

“Apa kita harus menghampiri mereka?” tanyaku pada Hye Ra yang tengah asyik memainkan ponselnya.

“Ehmm..” Hye Ra hanya menanggapiku dengan sebuah anggukan kecil disertai deheman.

“Haiissh.. dasar!” pada akhirnya aku berjalan menghampiri Kai dan Sehun, dengan Hye Ra yang mengekoriku perlahan.

Aku melihat sesuatu yang tidak beres diantara Kai dan Sehun. Ada apa? Kenapa wajah Kai semakin tampak dingin dan terkesan kesal? Sebelum aku dan Hye Ra sampai di tempat mereka berdiri, Kai telah pergi begitu saja. Aku menatap Sehun bingung dan dibalas dengan tatapan pasrah darinya. Ada apa? Sehun menghampiriku yang hanya dapat terdiam mematung. Mata Sehun menyiratkan kekecewaan, kepasrahan, dan kelelahan.

“Wae?” Hye Ra terlebih dahulu bersuara karena suaraku yang entah kemana hilang begitu saja.

Sehun menghela nafas panjang. “Entahlah, dia bilang ada urusan penting dan tidak dapat ikut dengan kita.” Mata Sehun yang biasanya terlihat begitu ceria menyiratkan kekecewaan. Aku dapat merasakan sesuatu yang berbeda diantara mereka. Aku tahu ini bukanlah alasan utama Kai tidak dapat ikut dengan kami.

“Jadi kita tetap ke kedai paman atau tidak?” tanya Hye Ra membelah suasana tegang yang entah sejak kapan ku rasakan.

Aku kembali memandang Sehun, meminta pendapat darinya. “Entahlah, aku sudah tidak berselera..” ujar Sehun dengan disertai helaan nafas panjang yang terdengar berat.

“Apa itu artinya tidak jadi? Kalau begitu aku ingin pergi kencan dengan Chanyeol dulu yah!” ucap Hye Ra sambil lalu dan pergi diiringi senandung ceria miliknya.

“Chanyeol?” Sehun mengernyit tak mengerti.

“Namjachingu-nya yang baru..” ucapku seraya pergi meninggalkan Sehun. Aku bingung, mengapa Kai jadi begitu dingin dan misterius?

“Yak Yoo Ri-ya!” aku berbalik sedikit kearah Sehun tanpa ekspresi. Dia berlari menghampiriku dan dengan cepat meraih tanganku untuk ikut berlari bersamanya.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku berusaha melepaskan cengkraman tangannya di pergelangan tanganku.

“Moodku sedang dalam keadaan yang buruk. Temani aku jalan-jalan, ‘ok?” ujarnya dengan kedipan sebelah mata diakhir kalimatnya. Cih, dia fikir aku sama dengan fans-fans bodohnya yang mudah ditipu dengan kedipan mata sok sexy-nya itu, huh? Jangan harap! Kau bukan tipeku Oh Sehoon!

*****


“Apa kau suka salju?”
“Aku suka, sangat menyukainya..”
“Bukankah salju membuatmu kedinginan?”
“Ya, tapi aku suka jika jalanan dipenuhi oleh salju dan banyak bukit-bukit salju di sekitar halaman rumah. Aku jadi dapat membuat boneka salju bersama appaku.”
“Kau suka boneka salju?”
“Tentu saja!”
“Kebetulan, aku sangat ahli membuatnya loh!”
“Benarkah?”
“Hmm.. Lain kali akan kubuatkan boneka salju yang super besar untukmu..”
“Jinjja? Janji yah?”
“Janji!”

*****

Sudah hampir satu bulan sikap Kai seperti itu, dingin, cuek, dan tertutup. Aku tidak pernah tahu alasannya bersikap seperti itu. Yang aku tahu hubungannya dengan Sehun juga menjadi renggang. Ada apa sebenarnya? Aku jadi semakin khawatir..

Hari ini adalah hari kelulusan kami. Hari yang membuatku merasa senang, gelisah, sekaligus sedih. Apa ini artinya aku dan Kai akan segera berpisah? Mengapa semuanya menjadi seperti ini? aku berharap ini bukan menjadi hari terakhirku untuk dapat selalu bersamanya. Entah mengapa aku jadi teringat dengan perkataan Hye Ra dulu. Apa mungkin seharusnya aku menyatakan perasaanku yang sesungguhnya pada Kai? Tapi bagaimana jika dia menolakku? Bagaimana jika cintaku hanya bertepuk sebelah tangan? Aku takut jika jawabannya tidak sesuai dengan keinginanku. Aku takut jika persahabatan kami yang terjalin bertahun-tahun rusak hanya karena dia tahu bahwa aku menyukainya. Apa yang harus aku lakukan?

“Boneka salju.. bukankah kau berjanji akan membuatnya bersamaku?” aku memainkan sebuah gantungan kunci berbentuk boneka salju yang ku beli sebagai hadiah perpisahan untuk Kai. Sebenarnya aku berharap dengan gantungan ini dia dapat terus mengingatku, mengingat semua hal yang kami lalui bersama, mengingat janjinya yang hingga kini belum terlaksana. Ku harap… Kai.

“Lucu sekali.. dapat dari mana?” aku kaget ketika Hye Ra muncul tiba-tiba di sebelahku.

“Yak! Kau ini ingin membuatku mati terkena serangan jantung atau apa?” aku mengomelinya dengan sekali semprot. Hye Ra terkekeh kecil dan meminta maaf.

“Apa benda itu akan kau berikan pada seseorang?” Hye Ra kembali melirik gantungan kunci di tanganku penuh pandangan antusias.

Aku memandang benda kecil itu lembut dan tersenyum tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Hye Ra. “Haa… itu pasti akan kau berikan pada pangeran misteriusmu itu, kan?” tebak Hye Ra dengan mata yang menyipit curiga.

Aku memelototinya dan kembali mengelak. “Aku membelinya karena suka, bukan untuk diberikan pada orang lain,” ujarku tenang sembari memasukkan benda kecil berwarna putih dan berkilau itu kedalam saku seragamku.

“Ahh.. begitu..” mata besar Hye Ra semakin menyipit curiga padaku.

“Aiissh sudahlah! Mau apa kau kesini?”

“Oh iya hampir saja lupa. Aku ingin mengingatkanmu agar tidak lupa menyiapkan barang-barang yang akan digunakan untuk time capsule kita nanti..”

“Mwo? Astaga.. aku harus segera menyiapkannya!” seruku seraya menepuk dahi.

*****

“Ambil ini!” aku menghempaskan beberapa kertas tepat ke dada Kai saat dia sedang asyik mendengarkan musik melalui headphone-nya.

Kai menatapku penuh dengan tanda tanya, mengambil kertas-kertas itu dan melepaskan headphone yang menempel dikedua telinganya. “Mwo?”

“Untuk time capsule kita. Kau tidak ingat? Cepat tulis!” ucapku sedikit galak. Sengaja, aku ingin mengembalikan masa-masa saat Kai tidak secuek sekarang walau hanya satu hari.

‘PLETAK’ sebuah toyoranpun mendarat dengan mulus dikepalaku. “Yak! Kenapa kau memukulku??!” protesku tak terima. Ku tatap mata dinginnya yang menatapku datar. ‘GLEK’ telak! Sekarang aku benar-benar tak dapat mengendalikan detak jantungku agar tetap stabil.

“Aku akan menulisnya, tapi tidak sekarang babo! Ck, dasar Bakpao! Seenaknya saja memerintah orang..” ucapnya dengan wajah tengil khasnya dan duduk di salah satu kursi kelas.

Aku terpaku. Kai memanggilku bakpao? Jinjjayo? Rasanya aku ingin melompat pada detik itu juga tapi sayangnya tidak mungkin kulakukan. Aku menatapnya masih dengan pandangan tak percaya. Menatapnya lama hingga dia berpaling ke arahku. Wajahnya terlihat keren walau dengan alis yang mengernyit heran seperti itu. Matanya tajam dan dingin. Bibirnya terlihat.. errr.. seksi? Dan kulitnya coklat maskulin. Mengapa kau setampan ini Kim Jong In?

“Apa kau sedang terpesona melihatku?” tanyanya seakan dapat membaca fikiranku.

Mataku mengerjap bingung dan melebar maksimal ketika sadar dengan ucapannya. “Yak! Apa maksudmu?” pekikku keras.

Kai hanya menyeringai jahil menatapku. Ekspresi yang sudah lama tidak ia perlihatkan padaku. Tak mau kalah, aku membalasnya dengan tatapan sengit. Sebenarnya aku tahu pasti mukaku sudah memerah sekarang, dan untuk menyembunyikannya satu-satunya cara hanyalah dengan berpura-pura marah dan kesal padanya.

“Dasar KkamJong jelek! Cepat tulis timecapsulmu dan kumpulkan padaku setelah kau selesai!” ujarku sinis dan segera pergi. Sebelum benar-benar keluar kelas aku kembali menoleh padanya yang masih terus memandangi kepergianku. Dengan cepat ku julurkan lidahku untuk mengejeknya. “Dasar jelek!”

*****

Ya! KkamJong! Tak terasa kita sudah bersama-sama selama 12 tahun yah?
Hehehe.. walaupun kau adalah namja yang menyebalkan, dingin, dan suka menjahiliku, aku bersyukur telah mengenalmu dan melewati hari-hariku di sekolah bersamamu..
Musim salju tahun ini begitu indah yah? Apa kau masih ingat dengan janji kita untuk membuat boneka salju bersama-sama? Aku masih berharap kita dapat melakukannya..
Setiap hari yang ku lalui bersamamu menjadi kenangan terindah didalam hidupku..
Kau selalu berada disampingku, menemaniku, melindungiku, membuatku tertawa dan membuatku memiliki banyak perasaan aneh tapi juga menyenangkan..
Kim Jong In, aku tahu jika mungkin perasaan ini salah, tapi aku mohon ketahuilah, aku mencintaimu..
Han Yoo Ri si Bakpao mencintai Kim Jong In yang jelek dan bodoh.. menyukaimu sejak pertama kali kau menggandeng tanganku menelusuri bulir-bulir salju di musim dingin yang indah..
Aku harap kau tetap mengingatku sebagai sahabat terbaikmu walau telah mengetahui semua isi hatiku..
Dan jika kau ingin, aku menunggumu di depan gerbang setelah pulang sekolah..

Han Yoo Ri^^♥


*****

Mataku menatap penuh harap ke selembar kertas berwarna ungu yang kini ku lipat menjadi sebuah bentuk kristal. Aku menghela nafas panjang yang terasa berat. Apa yang ku lakukan benar-benar tepat? Bagaimana reaksinya nanti? Ku buka tas milik Kai dan mencari tempat yang tepat untuk menyelipkan suratku. Setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan untuk menyelipkannya ke sebuah CD album hiphop miliknya. Tapi sebelum CD album itu ku taruh kembali kedalam tas milik Kai, seseorang mengagetkanku.

“Yoo Ri-ya?”

Tubuhku membeku mendengar suara yang sangat ku kenali itu. Sebelum aku menoleh, dengan secepat gelombang cahaya aku mengembalikan album itu ke tempat semula.

“Ah.. ye?” aku menunjukkan senyuman lebarku yang terlihat tolol. Matilah kau Han Yoo Ri!

“Sedang apa kau?” tanya Kai penuh curiga.

“Errr~ aniya.. aku hanya ingin memastikan kau benar-benar menuliskan permohonanmu untuk kita letakkan bersama-sama di timecapsule nanti..” aku beralasan. Bibirku terus mengukir senyum kaku yang semoga saja tidak diketahui olehnya bahwa saat ini rasanya aku ingin segera menenggelamkan diri di Samudra Pasifik.

Kai mengernyit heran. Masih menatapku aneh. Aku makin tergeragap. “Karena aku sudah memastikannya. Se.. sebaiknya aku pergi sekarang..” aku nyelonong pergi secepat kilat. Menunduk dalam menahan rasa malu dan gugup. Aku tahu Kai masih terbengong-bengong heran melihat semua tingkahku yang terlihat konyol. Bodoh!

*****

“Apa yang kau tulis di timecapsule?” tanyaku penasaran pada Kai.

Kami baru saja selesai mengubur timecapsule milik kami tepat di bawah sebuah pohon ek besar yang berada di halaman belakang sekolah. Setelah sebelumnya kami melaksanakan upacara kelulusan dan berfoto bersama. Rasanya aku ingin menangis setiap mengingat semua kenangan selama kami berada di sekolah ini. Dadaku bahkan terasa sesak setiap melihat Kai. Aku takut ini adalah hari terakhir kita bersama. Aku takut dia akan marah padaku karena tahu aku mencintainya dan menjauhiku. Kai.. aku takut.

“Mana boleh dibocorkan,” jawabnya dingin.

“Aiissh..” aku mendengus sebal atas jawabannya. Dia selalu membuatku jadi tampak bodoh setiap saat.

“Kau tidak menanyakan apa yang ku tulis di dalam?” tanya Sehun menunjuk diri sendiri.

“Mwo? Paling-paling permohonanmu adalah menjadi semakin tampan, dapat selalu dipuja para gadis saat di Universitas, dan punya lebih banyak fans..” ujarku sadis. Sehun hanya cemberut mendengar perkataanku. Dasar bocah!

“Kalau aku.. sudah pasti memohon agar tetap langgeng dengan Chanyeol, bertunangan dengannya dan menikah juga punya anak-anak yang lucu..” ucap Hye Ra dengan wajah berseri.

“Tapi.. janji yah walau apapun yang terjadi tidak ada yang boleh membuka timecapsule kita sebelum 10 tahun berlalu!” aku memperingatkan.

“Tentu saja…” jawab ketiga sahabat baikku serentak. Aku memandangi wajah mereka satu persatu. Mencoba untuk mematrinya di dalam otakku. Aku sungguh tak ingin melupakan hari ini, tak ingin melupakan wajah bodoh Sehun yang selalu saja kekanakan, tak ingin melupakan wajah sadis Hye Ra dengan mata besarnya, dan tak ingin melupakan senyum Kai yang selalu ku dambakan. Matanya, hidungnya, bibirnya, tak ingin sedikitpun ku lupakan.

“One.. two.. three.. Go! Go! Hwaiting!” teriak kami serentak dan tertawa bersama. Kenangan ini.. akan ku simpan baik-baik di dalam hati dan fikiranku.

*****

Bulir-bulir salju masih menjatuhi bumi, meninggalkan gumpalan-gumpalan es putih yang terlihat bersih tanpa noda. Pepohonan, gerbang sekolah, atap gedung, dan bahkan sebagian lapanganpun telah dipenuhi oleh gumpalan salju. Aku terus menggosokkan kedua telapak tanganku, berusaha menciptakan kehangatan lebih pada tubuhku yang telah menggigil. Bibirku mulai membiru merasakan udara dingin dan angin yang berhembus menerpa tubuhku yang hanya berbalut mantel berwarna pastel dan syal biru yang melilit bagian leherku. Sudah hampir satu jam aku berdiri di depan gerbang sekolahku ini, menunggu sosok Kai yang tak kunjung terlihat. Setelah aku, Kai, Sehun, dan Hye Ra mengubur timecapsule kami, Kai dan Sehun memutuskan untuk pulang belakangan karena masih ada pesta perpisahan siswa laki-laki di kelas. Sedangkan Hye Ra pulang lebih dulu karena harus pergi kencan dengan Chanyeol. Dan aku.. masih setia menunggu Kai di sini. Menunggunya memberikan jawaban atas surat yang menyatakan perasaanku padanya.

Mataku kembali mengintip dari sela-sela gerbang yang berwarna hitam pekat itu sambil berharap dalam hati akan ada sesosok namja tampan yang berjalan menghampiriku. Tapi nihil, suasana masih sesepi terakhir aku melihatnya. Aku mulai cemas dan kembali sibuk meniup kepalan tanganku dan menggosoknya. Kemudian tanganku tergerak untuk merogoh saku mantelku dan menemukan sebuah benda putih berkilau di dalamnya. Boneka salju. Aku berniat untuk memberinya pada Kai ketika dia menemuiku untuk menolak ataupun menerima perasaanku padanya. Mataku terus menatap lembut benda itu. Sedangkan ujung ibu jariku mulai mengelusnya perlahan. Kai.. apa kau belum menemukan surat dariku? Tapi.. bukankah kau selalu mendengarkan musik di manapun? Pasti kau sudah membukanya..

Aku melirik arloji di pergelangan tanganku dan menarik nafas panjang. Ku putuskan untuk menyusul Kai dan melihat apakah dia masih berpesta di dalam kelas bersama yang lainnya atau tidak. Derap langkah kakiku terdengar riang menggema ke seluruh bagian lorong-lorong kelas yang ku lalui. Senyum itu tak dapat ku sembunyikan walaupun ingin. Rasa antara takut, gugup, dan senang berkecamuk dalam dadaku, membentuk perasaan aneh yang sulit ku ungkapkan dengan kata-kata. Yang ada di fikiranku hanya satu, Kai tahu bahwa aku mencintainya. Kini aku tak perduli apapun reaksinya nanti. Tak perduli apa yang akan terjadi. Aku sadar, setidaknya aku tak akan pernah menyesal karena tidak mengatakan perasaanku yang sesungguhnya pada Kai.

“Han Yoo Ri si Bakpao mencintai Kim Jong In yang jelek dan bodoh.. hahahaha..”

“Bagaimana Kai? Kau benar-benar tidak memiliki perasaan pada Yoo Ri?”

Tubuhku membeku tepat di depan pintu kelas yang terbuka sedikit. Apa yang mereka bicarakan? Itu.. jelas-jelas suara milik Sehun. Apa yang terjadi?

“Ahh.. aku memang selalu bersamanya sejak kami berada di sekolah dasar, tapi aku sama sekali tidak tertarik padanya.. entahlah..”

Itu suara Kai! Apa yang baru saja ia katakan? Benarkah? Dia tidak sedikitpun tertarik padaku? Tapi.. tega-teganya dia menyebarkan suratku padanya ke semua anak laki-laki di kelas?! Kai…

Aku terlalu syok hingga rasanya jantungku berhenti berdetak. Gantungan kunci berbentuk boneka salju yang ku genggampun jatuh begitu saja ke lantai yang dingin. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, aku membuka pintu itu keras-keras dan menemukan sosok Kai yang tengah duduk di atas meja sembari melihatku terkejut. Semua menatapku dengan keterkejutan yang sama.

“Kai.. aku tidak tahu kau setidak suka itu padaku..” suaraku tercekat. Air mataku memaksa keluar. Aku masih menatapnya penuh kepedihan, kekecewaan, amarah dan ketidak percayaan.

Kai bangkit perlahan dari duduknya dan menatapku penuh rasa bersalah. “Mianhae.. Yoo Ri-ya..” aku tidak memperdulikannya lagi dan segera berlari secepat yang ku bisa.

“Yoo Ri-ya.. tunggu! Aku..” aku tahu Kai berusaha untuk mengejarku, itu sebabnya aku mempercepat langkah kakiku meninggalkan gedung sekolah. Aku tidak ingin melihatnya sekarang. Aku ingin lari dari semua ini. Kai.. sebegitu teganya kah kau hingga mempermalukanku dengan cara seperti ini?

Bulir-bulir salju turun dari langit. Menjatuhi tubuhku yang lunglai dan kehilangan keseimbangan. Air mataku terus mengalir menjatuhi kedua pipi tembamku. Dadaku terasa sesak, hingga rasanya tak dapat bernafas lagi. Aku menekan dadaku kuat-kuat, merasakan kepedihannya. Ku usap asal air mata di sekitar wajahku walau hal itu tidak menghentikan alirannya. Aku membencimu Kai.. aku membencimu… Kim Jong In!!

*****Snow Love*****Snow Love*****Snow Love*****Snow Love*****Snow Love

Seoul, 3 years latter.

Setelah kejadian itu aku tidak pernah sekalipun menghubungi Kai, apalagi bertemu dengannya. Aku memutuskan untuk kuliah di Amerika dan melupakan segalanya. Melupakan semua kenangan yang bahkan tidak pernah ingin ku lupakan, namun tetap terlalu menyakitkan untuk diingat kembali. Hingga saat ini hatiku masih sering terasa sakit saat mendengar beritanya di media dan melihatnya di televisi. Ya, setelah lulus Kai meneruskan kuliahnya di Seoul dan menjadi salah satu personil boyband yang baru saja debut tahun 2012 lalu bersama dengan Sehun. Kai bahkan tidak pernah memberitahuku sebelumnya bahwa dia dan Sehun menjadi salah satu trainee di agensi terkemuka, SM. Entertainment.

Kai.. jika kau tanya apa aku masih punya perasaan padanya, maka jawabannya adalah aku tidak tahu. Sulit bagiku untuk melupakan rasa dari cinta pertamaku yang telah berada didalam hatiku selama belasan tahun. Tapi aku telah memutuskan untuk melupakan segalanya dan memulai hidup baru bersama calon tunanganku, Kang Min Hyuk. Dia merupakan drumer disalah satu band terkenal di Korea, CNBlue. Min Hyuk adalah sosok yang manis dan lembut. Penuh kasih sayang dan juga ramah. Dia suka mengumbar senyum manisnya pada semua orang, bersikap ramah dan ceria. Wajahnya kekanakan dan cenderung terlihat lebih muda dariku, padahal aku jauh lebih muda darinya. Dia yang selama ini memberikanku cinta dan kasih sayang, membuatku merasa nyaman dan membantuku melupakan sosok Kai. Walau aku belum benar-benar mencintainya, tapi aku akan berusaha. Aku pasti akan membalas perasaannya padaku dan mencintainya sepenuh hati suatu saat nanti. Ya.. hal itu pasti akan terjadi..

“Neol.. nuguseyo?”

Aku berbalik saat seseorang yang suaranya sempat ku rindukan memanggil namaku. Aku tersenyum padanya setulus mungkin. Berusaha menyembunyikan rasa sakit yang masih saja terselip di hatiku. “Hallo, KkamJong.. How.. are you?”

Kai terlihat terpaku melihatku. Matanya menyiratkan keterkejutan yang sangat saat menatapku. Aku kembali mengumbar senyum ceria dan menghampirinya. “Lama tak jumpa.. kau tidak terlalu banyak berubah, yah?” aku tersenyum jahil padanya. Aku mendongak dan memukul kepalanya keras.

“Yak! Apa yang kau…” Kai menatapku lamat dan kembali terdiam.

“Kekeke~~ itu balasan karena kau sangat lama menemuiku! Aku sudah menunggumu sangat-sangat lama di luar! Kau tahu, udara di luar sangat dingin, aku bisa mati kedinginan karenamu!” omelku seraya duduk di kursi besi yang terletak tak jauh dari kami.

“Aiiish.. mianhae, mian.. aku tidak tahu kau akan datang hari ini. Lagipula, mau apa kau kemari?” tanyanya seraya duduk di sebelahku.

“Tunggu sebentar..” aku merogoh tas tangan berwarna ungu milikku, mencari-cari sesuatu. “Nah ini dia, kau harus datang! Aku akan membunuhmu jika kau tidak datang!” ancamku sadis.

“Eh? Ige mwoya?” tangannya memutar dua kartu undangan itu sedangkan matanya sibuk menelusuri setiap bagiannya.

“Undangan pertunanganku dengan Min Hyuk..” aku tersenyum sendu padanya. Kai mendadak terdiam. Mata tajamnya menatapku lamat seakan tak percaya dengan yang ku ucapkan.

“Kau tidak tahu? Aku bertemu dengannya di Amerika saat ia tengah menikmati liburannya di sana. Setelah hampir dua tahun berpacaran akhirnya dia memutuskan untuk bertunangan denganku..” aku bercerita sambil tersenyum tipis dan menatap hampa gundukan salju di seberang jalan. Kai masih menatapku, tanpa mengatakan apapun.

“Aku senang kau, Sehun, dan Hye Ra dalam keadaan baik disini. Kemarin aku menemui Hye Ra, dia bilang dia telah lama putus dengan Chanyeol, yah?” aku kembali tersenyum membayangkan wajah Hye Ra saat ia baru menjadi yeojachingu Chanyeol.

“Selama di Amerika aku selalu mencari info tentang kalian di Korea. Untunglah kau dan Sehun berada di boyband yang sama jadi aku dapat menitipkan undangannya..” aku terkekeh kecil sambil menyelipkan sedikit anak rambutku ke telinga.

“Apa kau masih marah padaku?” tanya Kai tiba-tiba.

“Hmm?” aku menoleh ke arahnya dan menatap tepat di manik matanya yang entah mengapa begitu menyiratkan kesedihan.

Kai menatap mataku dalam, dengan ekspresi yang sulit ku artikan. “Jika aku tidak mengatakan semua hal yang ku katakan waktu itu, apakah kau masih tetap di sini?”

“Mwo?” aku tergeragap. Bingung dengan sikap Kai yang tiba-tiba berubah.

“Apa hubungan kita.. dapat lebih dari seorang teman masa kecil?” Kai menatapku penuh penekanan. Jantungku mulai berdebar dibuatnya. Apa yang kau lakukan Yoo Ri-ya? Bukankah kau telah bertekad untuk mencintai Min Hyuk selamanya?

Aku tertawa kaku dan berusaha untuk sebiasa mungkin. “Apa yang sedang kau bicarakan, sih? Kau ini bercanda yah?” aku tertawa sendiri seperti orang tolol. Tapi tiba-tiba tangan besar Kai merengkuh pipi bakpao-ku dan sepersekian detik kemudian aku dapat merasakan bibirnya yang telah menempel sempurna pada bibirku. Mataku melebar maksimal atas aksi mengejutkannya. Aku mendorong tubuh Kai kuat-kuat saat lidah Kai hampir saja berhasil masuk ke dalam rongga mulutku.

‘PLAAK!’ sebuah tamparan keras meluncur bebas ke pipi kanannya. Membuatnya sedikit meringis memegangi pipinya yang merah. “Apa yang kau lakukan?!” pekikku emosi.

Kai menyeringai kejam dan menatapku dalam. “Bagaimana jika aku mengatakan.. aku, Kim Jong In yang babo, mencintai Han Yoo Ri si pipi Bakpao.. sangat-sangat mencintainya sejak ia pertama kali meraih uluran tanganku dan bergandengan tangan denganku di tengah hujan salju..?”

Mataku semakin memanas saat mendengar ucapannya. Jantungku seakan berhenti berdetak, dan seluruh sistem kerja syaraf-syaraf di dalam tubuhku rusak. Aku menatapnya penuh tak percaya. Bagaimana mungkin Kai mengatakan hal itu padaku setelah membuatku menjadi bahan olok-olokan? Aku tidak mengerti..

“Aku mencintaimu Han Yoo Ri.. mencintaimu sebelum kau bahkan dapat mencintaiku untuk pertama kalinya dalam hidupmu..” aku semakin bingung dan terkejut dibuatnya. Air mataku perlahan merembes keluar. Bodoh! Ternyata kau masih selemah ini Han Yoo Ri.

Kai menghela nafas panjang dan semakin menatap manik mataku dalam. “Jadi, maukah kau memaafkanku, dan menjadi gadisku mulai dari sekarang dan untuk selamanya?”

***THE END???***

woaaah akhirnya FF gaje ini selesai juga xD
eotteohke? penasaran tidak? endingnya gaje yah? haha sengaja sih bikin yang gantung sekali kali kkk~ :p
diharapkan commentnya yah!
ingat, KOMEN!!! 😀
Han Yoo Ri